udaya jawa di jaman sekarang mungkin tlah banyak terlupakan. Mungkin tlah berubahnya peradapan di muka bumi ini yang semakin modern dan masuknya budaya barat, dan majunya tehnologi n informasi. Dimana masyarakat , khususnya masyarakat perkotaan kadang sudah ada yang melupakan Budaya Jawa peninggalan leluhur.Banyak sekali Budaya² Jawa yang ada, diantaranya adalah "Tedak Siten ( tedak Siti), yaitu Tedak artinya Menapakkan Kaki dan Siten atau Siti yang berarti Tana, sehingga
biasa orang Jawa

Jawabanmu

2014-04-30T17:16:54+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Tanah Longsor Ketika bumi berguncang
Tetesan air mata berjatuhan
Terasa ingin kembali ke masa lalu
Ingin mengubah semuanya
Manusia yang sangat serakah
Hanya ingin memperoleh kepuasan
Untuk dirinya sendiri
Kini bencana telah terjadi
Tanah longsor telah menghancurkan
Menghancurkan Tempat mereka
Tanpa ada satu pun yang tersisa
Hanya karena batang pohon
Batang pohon yang ingin Dimiliki manusia
Kini menuai bencana
Bencana yang tak pernah mereka duga
Hutan yang telah diciptakan Tuhan
Sebagai sumber mata air
Sebagai sumber udara bersih
Sebagai sumber kesejukan dunia
Kini telah mereka hancurkan anugerah itu
Kini telah mereka sia-siakan nikmat itu
Kini Tuhan Murka
Tuhan Kini memberikan pembalasanNya
Sebagai pembalasan atas dosa-dosa mereka
    Ketika Burung Merpati Sore Melayang Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku
Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan
ADVERTISEMENTBeribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan
Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri
Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri
Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?
Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
    Tanah Longsor Kau datang dengan segenggam pasir
Jatuh bersama kerikil
Dan tanah beruntuhan
Angin bertiup kencang
Pohon-pohon pun tumbang
Hujan deras bagai badai
Udara dingin membekukan pikiranku
Rasa cemas tak terbatas
Tanah longsor…
Kulihat rumah-rumah
tertimbun karenamu
Hanya kisah tangis yang tersisa
    Rubuhnya petak kenangan Diantara siang yang cerah
Tenang dan damai terasa hati
Namun hati kembali tergugah
Ketika Alam bergerak seakan murka..
Tanah dan bangunan menerjang tubuhku Hanya beberapa detik saja
Semua tak akan bisa lari dari hukuman-Nya..
Aku menangis..
Aku menjerit..
Puing-puing derita masih terus kurasakan
Air mata ini belum lagi kering
Terdengar lagi jeritan saudaraku disana
Terdengar lagi jeritan para sahabat-sahabatku disana
Terkubur dinding dinding tebal
Di mana lagi tempat teduhku
Sementara petak petak kini tak terlihat
Ruang itu hilang sudah
Tenggelam bersama harapan
Masih lekat dalam ingatan
Saat kita bersama dan berbagi rasa
Berbagi suka dan duka
Di dalam petak kenangan
Petak kenangan yang tak mungkin hadir kembali
Salah siapa ini terjadi?
Dalam hati ku terus berkata
Apakah ini suatu cobaan?
Atau Peringatan?
Atau inikah teguran dari yang maha kuasa ?
suatu teguran yang tidak bisa ditawar..

1 5 1