Jawabanmu

2014-04-27T16:35:57+07:00
Masyarakat Sulawesi Selatan pada zaman dahululu memiliki keyakinan yang beragam. Untuk etnis Bugis dan Makassar serta Mandar, telah memahami konsepsi ketunggalan Tuhan. Mereka menyebut dengan nama “Dewata SeuwaE” yang berarti Tuhan yang tunggal.Kata “Dewata” menurut Mattulada berasal dari kata “De” dan “Watang” yang bermakna tiada yang mampu mengalahkan kekuatannya. Ada juga yang mengatakan bahwa “De” dan “Watang” berarti tidak memiliki jasmani. Bukan juga tidak mungkin, kata “Dewata” adalah istilah yang diserap dari kebudayaan lain. Tapi terlepas dari berbagai anggapan di atas, masyarakat Sulawesi Selatan umumnya di zaman dahulu telah meyakini ketunggalan Tuhan.Meski demikian, kepercayaan dahulu juga menempatkan kekuatan-kekuatan magis dalam sistem keyakinannya. Sehingga, hingga hari ini kita masih menemukan praktek ritual kuno yang ditujukan terhadap kekuatan magis tersebut. Ini berarti bahwa Islamisasi di Sulawesi Selatan mengalami akulturasi dengan kebudayaan lokal.Proses IslamisasiProses Islamisasi di Sulawesi Selatan sebenarnya telah berjalan sebelum awal abad ke-17. Atau sebelum kerajaan-kerajaan mengakui Islam sebagai agama resmi. Hal ini diindikasikan dengan adanya makam wali di Sulawesi Selatan, atau cerita rakyat maupun naskah kuno sebelumnya yang berkisar abad ke-13 dan 14. Meski demikian masih membutuhkan penelitian kesejarahan yang lebih mendalam.Pada akhir abad 16 kerajaan Makassar adalah kerajaan yang terkuat di timur nusantara yang telah berinteraksi dengan kerajaan luar seperti Portugis, Denmark, Inggris dan Spanyol. Hal ini membuat kaum jesuit tertarik untuk menyebarkan misi kristen di Sulawesi. Maka datanglah misionaris dari Portugis yang menawarkan kristen kepada Raja Makassar. Bahkan misionaris Portugis sempat mengkristenkan Datu Suppa (Pinrang) dan Raja Siang (Pangkep). Namun pada saat yang hampir bersamaan, kerajaan Ternate dan Aceh juga menawarkan Islam.Sejarah mencatat, Sultan Iskandar Muda Raja Aceh mengirim Dato’ ri Bandang, Dato’ ri Tiro dan Dato’ Sulaiman untuk menyebarkan Islam. Di tempatain, La Mungkace to Udamang, Raja Wajo pernah bermimpi melihat orang shalat dan tertarik. Namun merasa ajalnya sudah dekat, beliau mewasiatkan bahwa akan ada agama baru dan hendaknya rakyatnya mengikuti agama tersebut.Sebelum Dato’ ri Bandang menemui Karaeng Tallo (mangkubumi kerajaan makassar), I Malingkaan daeng Nyori Karaeng Tallo bertemu dengan seorang yang berjubah warna keemasan dan menganjurkan agar menerima Islam. Padahal sebelumnya, putranya hendak membunuh Dato’ ri Bandang.Ketika Dato’ ri Bandang mengunjungi Karaeng Tallo, beliau mengucapkan salam dan dijawab juga dengan salam. Proses selanjutnya Karaeng Tallo beserta anaknya mengucap dua kalimat syahadat. Memang kisah pengislaman terkadang berbau mistis, sehubungan dengan paradigma masyarakat pada saat itu. Tapi bukan berarti pembenaran terhadap rasionalitas empiris yang serta merta menolak pandangan seperti itu.Di Luwu, Dato’ ri Sulaiman (Dato’ Patimang) bertemu dengan Datu Luwu yaitu Daeng Parabbang dan berdiskusi tentang ketuhanan. Ternyata konsep Dewata Seuwae yang dipahami Datu Luwu dan rakyatnya kemudian disebut Dato’ Patimang sebagai Allah Subhanahu Wataala dan konsekuensinya adalah mengakui kerasulan Muhammad. Dengan mudah Raja Luwu mengucapkan dua kalimat syahadat.Gowa Tallo (Makassar) adalah simbol kekuatan politik dan militer kerajaan pada saat itu. Dan Luwu adalah simbol tradisi mistik. Islamnya kerajaan Makassar dengan Luwu adalah kemenangan besar dalam Islamisasi. Saat Dato’ Patimang meminta Datu Luwu untuk menyebarkan Islam, Datu Luwu dengan rendah hati mengatakan bahwa di Gowalah kekuatan dan menganjurkan agar Islamisasi dilaksanakan oleh Gowa karena kekuatan politik dan militer yang dimilikinya.Gowa menyerang Siang dan Suppa yang sempat dikristenkan lalu diIslamkan. Kemudian kerajaan-kerajaan Ajatappareng (Sidenreng, Rappang) dan Mandar pada tahun 1605. Selanjutnya kerajaan Soppeng di Islamkan pada tahun 1607. Pasukan gabungan Soppeng dan Gowa menyerang Wajo dan Wajo pun diIslamkan pada tahun 1609. Selanjutnya, pasukan Gowa, Soppeng dan Wajo menyerang Bone pada tahun 1611. Takluknya Bone adalah dalam musu selleng “Perang Islamisasi” adalah pertanda masyarakat jazirah Sulawesi Selatantelah menerima Islam.Diakuinya Islam menjadi agama resmi kerajaan, berimbas pada berubahnya konstitusi dan struktur kerajaan. Pangadareng adalah konstitusi kerajaan yang terdiri dari1.Ade’ yang berarti undang-undang atau ketetapan permanen.2.Rapang yang kurang lebih berarti yurisprudensi.3.Wari’ yang bermakna aturan-aturan termasuk keprotokoleran4.