Jawabanmu

2014-04-25T14:25:47+07:00
Dengan cara berdakwah, dan suka rela dalam hal pendidikan
2014-04-25T16:35:52+07:00
Proses Islamisasi di SumateraAceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam.Adanya berita dari Marcopolo yang mengatakan bahwa ketika ia mengunjungi Sumatera penduduk Sumatera Utara beragama Hindu kecuali Ferlec yang sudah beragama Islam dan adanya batu nisan kubur di Aceh dengan nama Sultan Al Malik al-Saleh yang berangka tahun wafat 1297 M menandakan bahwa Islam sudah tumbuh dan berkembang di wilayah Sumatera. Adapun teori yang mengatakan Islam masuk Indonesia abad ke-7 M, tidak lebih realitas “masuknya” yang dibawa oleh para pedagang muslim karena dalam perjalanan pelayaran dagang mereka ke dan dari Cina selalu singgah di Sumatera atau Jawa.Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi, yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Untuk mengetahui sejarah dari kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera juga diperlukan pengetahuan tentang kekuasaan-kekuasaan yang ada sebelumnya. Sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera, pemegang emporium atas pelayaran dan perdagangan dari Barat ke Cina atau sebaliknya adalah kerajaan Sriwijaya. Setelah beberapa abad lamanya memegang kekuasaan pelayaran dan perdagangan datang masa kemerosotan dan kemundurannya pada abad ke-11 sampai abad-13. Hal ini disebabkan antara lain serangan dari Cola sekitar tahun 1025 M dan kekalahan atas kekuasaan di Jawa Timur pada abad ke-13. Dengan mundur dan merosotnya kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan pemerintahan Sriwijaya dipindahkan dari Palembang ke Jambi dan kedudukannya digantikan oleh bajak laut. Pusat perdagangan pun mulai terpencar di antaranya di Pidie dan Samudera Pasai. Demikian halnya dengan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya, satu demi satu melepaskan diri sehingga pada awal abad ke-14 muncul pusat-pusat kekuasaan baru seperti Kerajaan Aceh, Lamuri, Siak, Arkat, Rupat, Kampar Tongkal, Indragiri, Klang, Bernas, dan Perlak. Di antara kerajaan-kerajaan dan pelabuhan-pelabuhan tersebut pada akhirnya faktor ekonomi dan politik sangat menentukan siapa yang paling berpengaruh. Pada akhir abad ke-14 Kerajaan Aceh telah berkembang sebagai pusat perdagangan yang paling ramai, bahkan menurut sumber Portugis, sebagai salah satu pusat perdagangan yang terbesar di Asia.