Jawabanmu

2014-01-21T21:40:53+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Katanya portugis peninggalannya benteng pendem di cilacap tapi katanya juga benteng itu peninggalan jepang
4 4 4
Jawaban paling cerdas!
2014-01-21T21:47:23+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Jejak Portugis di Jakarta Gereja Tugu (Foto-foto: internet) Warta Kota, Rabu, 9 Maret 2011 – Sampai kini jejak-jejak bangsa Eropa masih terlihat di Jakarta. Selain Belanda yang selama 350 tahun menjajah negara kita, jejak Portugis pun banyak dijumpai dalam berbagai ujud. Bangsa Portugis memang dikenal sebagai bangsa pelayar dan petualang yang tangguh. Masa ekspansi kolonial Portugis dimulai pada 1385 ketika John I mendirikan Dinasti Aviz. Pada abad XVI daerah jajahan Portugis meliputi Amerika Selatan, Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Diperkirakan, timbulnya kolonialisme Portugis dimulai oleh “mimpi” seorang Pangeran bernama Dom Henrique, untuk mencari “dunia baru”. Dia meninggalkan istana dan mendirikan sekolah nautika di Portugis Selatan. Di sana dia mengundang para ahli geografi dan kartografi terbaik Eropa. Dengan uangnya sendiri lalu dia membentuk sebuah armada kapal yang pergi berlayar mencari “dunia baru” tadi. Pada awalnya mereka berhasil melewati Tanjung Harapan di Afrika. Maka rute ke wilayah Timur pun terbuka dan dalam sekejap tujuan-tujuan komersial memperkuat jiwa petualangan bangsa Portugis itu. Ketika mereka tiba di Goa, India, mereka mulai menyadari betapa pentingnya perdagangan rempah-rempah. Setelah berhasil merebut Malaka di Malaysia pada 1511, maka Albuquerque mengirim sebuah ekspedisi untuk mencari Maluku. Dari sanalah Portugis mulai melakukan ekspansi ke seluruh wilayah Indonesia (Pengaruh Portugis di Indonesia, 2000). Dari rempah-rempah lalu berkembang menjadi hubungan militer, kebudayaan, etnis, komersial, dan agama. Masa kolonialisasi Portugis di Indonesia antara lain dapat ditelusuri lewat tulisan seorang pengelana bernama Tome Pires. Catatan Pires banyak dipakai untuk merekonstruksi sejarah Indonesia pada abad XV. Tulisannya, Suma Oriental (Perjalanan ke Timur), dibukukan di London pada 1944. Catatan Pires yang dinilai penting antara lain tentang adanya Kerajaan Sunda di Jawa Barat (regno de cumda). Selanjutnya tentang asal mula kota Jakarta, yang sampai kini masih menjadi polemik. Ketika itu, menurut Pires, pada 1522 di Sunda Kalapa, Portugis menandatangani perjanjian dengan pangeran setempat. Hasil kerja sama itu diujudkan dalam sebuah padrao. Padrao adalah sebuah tiang batu setinggi kira-kira dua meter, dengan suatu inskripsi yang menyatakan bahwa orang Portugis telah lewat di situ. Jejak lain Portugis di Jakarta tampak dari Gereja Sion (Gereja Portugis) di Jakarta Kota dan Gereja Tugu di Jakarta Utara. Bahkan sampai kini Kampung Tugu menjadi tempat tinggal orang-orang keturunan Portugis. Meriam Si Jagur di Museum Sejarah Jakarta Peninggalan Portugis yang cukup populer di Jakarta adalah Meriam Si Jagur, yang sekarang ditempatkan di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Meriam itu semula berada di Malaka, lalu dibawa ke Jakarta oleh tentara Belanda. Pengaruh Portugis dalam bidang nonfisik terlihat pada nama atau bahasa. Mungkin masyarakat Jakarta tidak asing dengan Jalan Roa Malaka di Jakarta Kota sekarang. Sesungguhnya, Roa berasal dari bahasa Portugis Rua, yang berarti jalan. Dalam bidang kesenian, orang-orang Kampung Tugu mempunyai pengaruh kultural yang kuat di Jakarta. Musik keroncong diyakini merupakan warisan bangsa Portugis. Ingat lagu “Nina Bobo” yang sering dinyanyikan untuk menidurkan anak kecil? Ternyata, Nina berasal dari kata Portugis Menina (anak gadis kecil). Dalam bidang bahasa, banyak kata Portugis secara resmi diterima dalam bahasa Indonesia. Misalnya bendera (dari kata bandeira), gereja (igreja), keju (queijo), palsu (falso), renda (renda), sepatu (sapato), dan terigu (trigo). Belum lagi nama-nama tempat, istilah, dsb di seluruh Nusantara. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)
4 5 4