Jawabanmu

2014-04-23T16:54:22+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Kisah seorang pendendam.

“Mau mati mulia saja kok ya susah,” kata lelaki yang baru saja digotong ke trotoar jalan itu. Wajahnya penuh darah. Mulutnya terus merintih sambil nggresulo. “Apalagi mau mencari hidup mulia,” imbuhnya. Kami hanya diam sambil mengangkat lelaki itu. “Waoalah, kok ya aku masih Engkau beri hidup ya Allah,” lelaki itu terus menggerutu. Ia terjatuh dari sepeda yang menimbulkan ledakan dahsyat; semacam bom low explosive; suaranya sedikit lebih dewasa dari mercon lebaran. Namun, ketika ia mendengar orang ribut mengatakan, “Hancur…hancur! Kepalanya pecah.” Dia tersenyum bangga. Batinnya berkata, aksi balas dendamnya sukes besar. Memang ia ingin membalas dendam pada polisi yang telah merobohkan teman-temannya. Ia tidak rela. Maka malam itu ia kayuh sepedanya menuju pos polisi lalu lintas. Polisi itu number one enemy. Semua polisi. Lelaki itu juga tak mengenal satuan-satuan dalam kepolisian. Yang ia pahami polisi bertanggung jawab atas perlakuan yang diterima teman-temannya. ia geram dan tidak terima. Maka malam itu ia kayuh sepedanya menuju pos polisi lalu lintas. Sebuah benda terikat kuat di tempat duduk bagian belakang. Maka, ketika ia berhasil menabrak polisi yang berdiri angkuh itu, lalu memencet tombol dan menghasilkan ledakan yang cukup mengagetkan, ia merasa bangga. ia terjungkal beberapa meter. Tangannya patah. Wajahnya penuh luka. Tapi sayang, lelaki itu tidak mati. Saat ia ditandu menuju ambulan, lelai itu tak lagi mampu membuka mata. Perih. Tapi sayup-sayup ia mendengar obrolan orang. “Akhirnya Pak Polisi Wibawa tumbang juga setelah mengabdi lima tahunan,” kata sebagian orang berseloroh. lelaki itu tersenyum lega. Ia bangga, meski tidak mati. Tiba-tiba seorang polisi melintas dan berkata kepada kawannya. “Untung malam,” katanya sambil tersenyum. “Yang tertabrak cuma Pak Wibawa. Si Patung Polisi!” Lelaki itu menjadi pucat. Ia salah sasaran. Mendadak kepalanya berkunang-kunang dan dia tak lagi tahu apa-apa. Gelap. Lebih gelap daripada malam. Dan, anehnya tak ada bidadari yang menjemputnya.