1. Majas-majas yang digunakan dalam puisi Tuhanku Apatah Kekal?
karya Amir Hamzah & Rumah karya Toto Sudarto Bachtiar. Jelaskan!
2. Sifat diksi yang digunakan alam puisi Tuhanku Apatah Kekal? karya Amir Hamzah & Rumah karya Toto Sudarto Bachtiar.
3. Kenampakan persajakan dalam puisi Tuhanku Apatah Kekal? karya Amir Hamzah & Rumah karya Toto Sudarto Bachtiar.
4. Penggunaan rima dalam puisi Tuhanku Apatah Kekal? karya Amir Hamzah & Rumah karya Toto Sudarto Bachtiar.
5. Arti yang dapat kalian tangkap dari dalam puisi Tuhanku Apatah
Kekal? karya Amir Hamzah & Rumah karya Toto Sudarto Bachtiar.

1

Jawabanmu

2014-04-23T18:45:48+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Sifat diksi = Sangat baik.
Majas pararelisme yang anafora. disebut anafora karena kata yang diulang terdapat pada awal kalimat
Rima = a-b-a-b

Sehubungan dengan cinta dan puisi-puisi Amir Hamzah, apa yang penting adalah sikap penyair terhadap cintanya yang kandas, atau cara penyair mengatasi rasa sakitnya yang pastilah tak tertanggungkan. Sebagai seseorang yang berlatar agama Islam yang kuat, dia segera mengadukan masalahnya kepada Tuhan. Dalam puisi “Tuhanku, Apatah Kekal?”, yang dikirimkan Amir Hamzah kepada Aja Bun segera setelah cinta Amir kepada kekasih pujaannya itu kandas, sang penyair mencurahkan perasaannya yang sangat terpukul, seraya mengadu: Tuhan, berapa lama duka-lara ini mesti kutanggung? Dan, adakah lagi yang lebih berat dari lara ini yang mesti kutanggung?Dalam pada itu, penyair mencoba meredam sakit luka hatinya yang kelewat berat. Sejalan dengan pengaduan penyair kepada Tuhan, dia menyikapi badai yang menghantam perasaannya sebagai takdir yang mesti diterima dengan lapang. Ia tak lain merupakan ketentuan Tuhan, dan menghadapi ketentuan Tuhan yang berat, tak ada sikap lebih baik daripada menerimanya dengan tulus-ikhlas. Kirasanya sikap inilah yang menguatkan hati Amir Hamzah sekaligus membuka pintu-pintu pencerahan batinnya yang nyaris gelap dan keruh. Menghibur hatinya yang remuk-redam, penyair mencoba meringatkan beban batinnya sendiri (“Senyum Hatiku, Senyum”):
20 4 20