Jawabanmu

2014-04-22T09:37:40+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
“Nessa..”. Panggil seseorang dari belakang.
“Ya? Apa?”. Aku menoleh ke belakang.
“Lagi ditunggu Adrian tuh di kelas”. Ucap seseorang. ternyata dia Devi, sahabat karibku sejak aku masih SMP.
“Masa sih Dev?”.
“Beneran..”.
Aku hanya tersenyum kecil pada Devi. Hanya saja aku berpikir tidak akan mungkin seorang Adrian menunggu cewek suram sepertiku.
Aku berjalan melewati koridor dan tangga menuju kelasku. Terlihat Adrian bersama anggota Genk nya, Aldi, Ilham dan Yovan. Saat aku berjalan di hadapan Adrian, di memalingkan muka kepadaku. Berbeda dengan Aldi, Ilham dan Yovan.. mereka menyapaku dengan memberikan senyuman manis yang mereka miliki. Aku pun membalas dengan senyuman temanisku. Aku memasuki ruang kelas yang masih sunyi dan sepi. Terlihat beberapa anak saja yang sekedar bersantai di bangku masing-masing.
Ku lihat bangku Adrian yang masih lusuh dan kotor. Aku membuka tas ku dan ku keluarkan sekotak kue dari tasku. Hmm.. tercium harum kue buatanku saat kubuka. Ku letakkan di atas bangku Adrian.
Tak lama kemudian, Ilham datang. “Nessa.. itu kotak kue yang kamu buat ya?”.
Aku hanya mengangguk.
“Ngapain kamu susah-susah bikin? toh Adrian nggak mau makan kue mu itu”.
“Biarin..”.
“Aku makan aja ya..”.
“Jangan.. biar Adrian tau dulu, nanti kamu tanya sama dia”.
“OK..”.
Beberapa menit kemudian Adrian bersama Aldi dan Yovan datang. “Adrian.. dapet kado spesial nih”. (Ilham)
“Dari Nessa?”.
“Right”.
“Bawa sini”.
“Mau dimakan ya?”.
“Terserah gue.. mau gue makan kek, mau gue buang kek, nggak ada urusannya sama loe!”.
Saat aku mendengar Adrian berucap seperti itu, aku langsung keluar meninggalkan kelasku..
Hatiku sakit sekali..
“Nes.. mau kemana?” (Aldi)
Aku tak menjawab pertanyaan Aldi
“Adrian.. loe tega banget sih sama cewek!”. Bentak Ilham.
“Tau nih si Adrian, hargain dong perasaan cewek..!”. Tambah Yovan
“Tau apa lo tentang cewek?”. Adrian mengelak.
“Gue nyesel banget temenan sama orang yang nggak bisa ngehargain seseorang!”. Ucap Aldi
Aldi, Ilham dan Yovan pergi meninggalkan Adrian. “Guys! Guys!”. ADrian berteriak. Saat pulang sekolah, aku melihat Adrian bersama Cewek lain. Hatiku kembali sakit. Aku langsung berlalu dan pulang. “Kak Nessa.. gimana kuenya tadi?”. Tanya Reno.
“Kata Adrian enak banget Dek”. Aku berbohong pada Reno.
“Oh ya?”. Ucap Reno.
“He’em..”. Ucapku.
Aku berlari menuju kamarku. Berlinanglah air mataku. *kreeekkk* Pintu kamarku terbuka. Aku langsung mengusap air mataku. “Apa dek?”.
Reno langsung menyobek-nyobek foto Adrian yang ku pajang di atas ranjangku.
“Lho? kok disobek dek?”.
“Adrian emang keterlaluan kak!”.
“Enggak.. Adrian baik kok sama kakak”.
“Aku nggak percaya kak. Tadi Ilham aja telpon aku, kalau kue kakak yang kakak bikin tadi pagi itu dibuang sama Adrian!!”.
Aku terdiam sejenak. Reno mulai pergi meninggalkan kamarku.
Aku begadang semalaman tanpa merasa ngantuk.
Ku lihat jam, yeng telah menunjukkan pukul 03.28
Astaga.. pukul 3 pagi, tetapi aku belum merasa ngantuk.
“Nessa..”. Mama memanggilku, dan menyuruhku untuk shalat Shubuh.
“Astaghfirullah Nessa.. suhu badan mu panas sekali.. Nanti kamu nggak usah sekolah ya, kamu di rumah aja istirahat.”.
“Enggak Ma.. aku masih kuat kok.”.
“Mama nggak izinin kamu masuk sekolah hari ini, kondisinya tidak memungkinkan sayang..”.
Aku menuruti kata Mama.
“Ma, Reno suruh izinin ke wali kelas ku ya.. sama aku titip surat ini untuk Adrian”.
“Ya sayang..”.
“Reno.. ini surat dari kak Nessa untuk Adrian, jangan lupa di sampaikan ya..”.
Reno hanya mengangguk
Reno telah sampai di sekolahan.
Dia memberikan surat itu kepada Adrian, saat Adrian akan membuangnya. Ilham menghadangnya.
“STOPP!! Jangan buang surat itu. Baca dulu!”.
“Ya udah.. gue baca”.
Setelah Adrian membaca surat itu. Reno menampar Adrian dengan kersanya. *Plaakkk*
“Lo jahat banget sih jadi cowok! Kakak gue mati matian ngehargain lo, tapi kenapa lo cuekin?”.
Aku memutuskan untuk pergi ke sekolah, hanya untuk bertemu Adrian. Aku telah sampai di sekolah. “Nes.. maafin gue. Gue emang jahat banget sama lo. Maaf gue Nes.. Please..”. Adrian memohon kepadaku.
“Udah terlambat Yan, gue udah terlanjur benci sama lo! Gue cuma butuh di hargain aja sama lo!! Walaupun gue nggak lo balas dengan sesuatupun, gue tetep sabar Yan!! Tapi seseorang punya batas kesabaran.. dan sekarang kesabaranku udah habis, gue nggak akan pernah maafin lo Yan!! nggak akannn!!!”.
“Ness!! Nessaaa…”. Adrian berteriak kencang.
Kini, aku telah Move On dari Adrian.
Dan kulupakan dia, sampai akhir hayatku!.