Jawabanmu

2014-04-21T23:11:30+07:00
Setelah proklamasi 1945, Belanda kembali datang ke Indonedia dengan membonceng kapal tentara NICA (sekutu) untuk kembali berkuasa di Indonesia. Jakarta sebagai ibu kota Republik yang masih bayi kembali dikuasai Belanda. Tahun 1946, Sultan mengundang Soekarno-Hatta dan seluruh jajaran kabinetnya untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta, sebagai negeri yang berdaulat dan diakui oleh kerajaan Belanda. Rombongan dari Jakarta tiba di Yogyakarta tanggal 4 Januari 1946. Dua hari kemudian Yogyakarta diserang Belanda. Secara pribadi Sultan HB 9 tidak kenal dengan Soekarno sebelumnya, itu adalah pertemuan pertama mereka yang sangat bersejarah. Kelak perpisahannya pun sangat bersejarah bagi Indonesia. Sebelum kota Yogyakarta sepenuhnya jatuh ke tentara Belanda, Sultan HB 9 meminta pejuang di bawah pimpinan Jendral Soedirman untuk menyingkir dari kota dan bergerilya. Dan melakukan penyerangan-penyerangan sporadis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa TNI masih ada. Ketika Belanda sudah bisa menguasai wilayah kota Yogyakarta sepenuhnya, para pemimpin diasingkan, Sultan HB 9 diisolasi di dalam wilayah kraton saja, tidak boleh keluar. Tapi Sultan HB 9 sudah menyusun strategi bahwa setiap pejuang dan para pegawai pemerintahan boleh masuk ke dalam Kraton dengan menyamar menggunakan pakaian abdi dalem (pegawai kraton). Termasuk salah satunya adalah Soeharto, yang kelak menjadi presiden kedua RI. Sultan HB 9 juga berhubungan dengan Sjahrir untuk membuat RIS (pemerintahan sementara) di Padang. Juga aktif menggalakkan siaran-siaran radio internasional untuk membuka mata dunia, bahwa pemerintahan dan tentara Indonesia masih ada, semua hal ini dilakukan agar Indonesia sebagai negara diakui eksistensinya. Pada waktu itu, oleh pemerintah Belanda, Sultan HB 9 ditawari kekuasaan seluruh pulau Jawa dan Madura, dengan syarat Belanda tetap boleh menguasai wilayah-wilayah lain di Indonesia. Sultan HB 9 waktu itu menolak. Tidak bisa dibayangkan apa jadinya Indonesia jika saat itu Sultan HB 9 tergiur dengan penawaran itu. Justru sebalinya, Sultan HB 9 sangat nasionalis, yang ada dipikirannya hanya berdirinya Indonesia yang merdeka. Maka beliau tidak segan menanggung seluruh biaya pemerintahan, termasuk gaji Soekarno-Hatta dan seluruh kabinetnya, juga operasional TNI, dan pengiriman-pengiriman delegasi Indonesia ke konferensi Internasional. Sultan HB 9 tidak mengakui berapa uang yang telah dikeluarkan oleh Kraton untuk itu semua, Mohamad Hatta mengatakan lebih dari 5 juta gulden. Kemudian oleh PBB, Indonesia dinyatakan menang di Konferensi Meja Bundar, dan PBB memerintahkan Belanda angkat kaki dari Indonesia. Kemudian para pemimpin dan mentri-mentri kembali ke Yogyakarta dari pengasingan dan persembunyian. Soedirman dan pasukannya juga kembali ke kota, dan terjadilah proklamasi Indonesia yang kedua di Yogyakarta tahun 1949, ini cerita yang jarang diungkap. Ketika Soekarno-Hatta dan seluruh jajaran dan staff kabinet RI kembali pindah ke Jakarta pada 1949, Sultan HB 9 memberikan cek senilai 6 juta gulden kepada Soekarno-Hatta yang diharapkan bisa dijadikan modal membangun republik yang masih bayi tersebut. Pada saat upacara perpisahan dan memberikan cek itu, seorang raja Jawa, dalam pidato di muka umum, mengakui kemiskinannya seraya mengatakan bahwa, Yogyakarta tidak mempunyai apa-apa lagi. Beliau tidak mengatakan ‘saya’ atau ‘kraton’, tapi mengatakan ‘Yogyakarta’, sebuah cerminan ‘manunggaling kawula gusthi’ (bersatunya rakyat dan raja), penghargaan stinggi-tingginya terhadap rakyat jelata yang telah ikut berjuang. Dalam suara yang bergetar dan uraian air mata, Soekarno berpidato pendek menanggapi hal tersebut; “Yogyakarta termasyhur karena jiwa-jiwa kemerdekaannya, hidupkanlah terus jiwa-jiwa kemerdekaan itu”
16 4 16
Sultan Hamengku Buwono IX adalah wakil INdonesia dalam pengkuan kedaulatan di Yogyakarta
tanggal 27 Desember 1949