Jawabanmu

2014-04-18T22:48:01+07:00
” Bapak adalah saksi yang benar. Bapak tidakboleh begitu merasa berdosa.”  Dia menunduk seolah dia hendak menyembunyikn mukanya.  “Bapak orang baik. Saya harus mengatakannya! Anakku sedang sakit keras. Kami perlu biaya. Istriku telah putus asa di rumah. Dokter meminta banyak. “  Dia kembali menunduk. “Saya bukanlah penjambret. Tetapi. saya telah melakukannya. Tiga kali kalung itu keluar ke dalam pispot. Begitu ke luar aku langsung menelannya.”  Dia lepas jabat tangannya pelan-pelan. Dia memandngku. ( Pispot, Hamsad Rangkuti, Kompas ,17 Oktober 1982) Yang awet menjadi tema dalam cerpen dari tahun ke tahun, salahsatunya, kalau tidak menjadi satu-satunya, ya, kemiskinan. Tidak berubah dari tahun ke tahun, bahkan dari dasa warsa yang lalu. Tenggok saja penggalan cerpen diatas, yang dimuat pada tahun 1982. Puluhan tahun yang lalu. Jauh sebelumnya , tahun 1970-an. “Kasihan anak-anak,” katanya dalam hati. Telah enam bulan anak-anak belum bayar uang sekolah. Beberapa hari yang lalu diterimanya surat peringatan  dari kepala sekolah untuk segera membayar. Tapi bagaimana bisa ? Sebagai pegawai rendah golongan B ia harus main akrobat untuk menghidupi anak-anaknya yang kini berjumlah enam orang. Gaji yang dierima sebanyak Rp. 2.500 tiap bulan. Jumlah uang sekolah anak-anaknya sebulan kira-kira Rp. 500. Sewa rumah Rp. 250, dan sisanya untuk membeli sayur, gula, teh , minyak, dan lain-lain. Belum lagi kalau anak-anaknya sakit yag membutuhkan biaya pengobatan. Lalu istrinya diijinkanlah untuk melacur, untuk menambah penghasilan, agar bisa menambal penghasilan  suaminya yang kurang. Jauh sebelumnya, semoga tidak bosan, dalam cerpen yang pernah dimuat dalam majalah Kisah yang terbit tahun 1953 sampai 1957, tema kemiskinan sudah dibikin. Setelah selesai menggeledah pakainku, ia menumpahkan perhatiannya kepda arloji tanganku. Karena melihat badanku yang tak seberapa itu, ia tak peduli tanganku kuangkat atau tidak. Ia mengengggam tangan kiriku untuk mencopot arlojinya ; sayang annya agak sukar membukanya kalau dengan tangan satu. Karena itu tangan kanannya ikut maju. Pistolnya sekali waktu membalik, dan terlihat olehku popornya tidak ada patroonhoudernya. Kosong melompong seperti teng ensin bocor. ( “Vickers Jepang,” Nugroho Notosusanto, dari  “Analisa , sorotan atas cerita pendek,” HB Jassin, penerbit PT Gunung Agung, 1963) Diceritakan , bagaimana mantan pejuang yang kelimpungan tidak memiliki uang untuk membiayai istrinya ketika melahirkan. Nekad menodong memakai pistol kosong, eh, yang ditodong, malah mantas komandannya di medan perang dulu. Kemiskinan demi kemiskinan dalam cerpen, dari tahun ke tahun, bahkan dari dasawarsa ke dasawarsa seolah diawetkan. Ya, atau malah memang sengaja kemiskinan diawetkan agar bisa menjadi inspirasi atau ide bagi para cerpenis ? Tentu sebuah hil yang mustahal, kata Asmuni almarhum, tapi begitulah. JIka nilai keperawanan bisa bergeser, bahkan dalam sebuah cerpen. Pandangan yang mengatakan keperawanan suatu hal yang suci dan sakral, dalam cerpen-cerpen dulu. Dalam cerpen - cerpen sekarang, kehilangan keperawanan bukan sesuatun yang perlu ditangisi, keperawanan bukan lagi sesuatu yang sakral.   Berbeda dengan kemiskinan, dulu dan sekarang, sama saja. Awet, seolah diawetkan. Jika cerpen bisa menjadi cermin masyarakatnya, maka, mungkin sudah pada mafhum, kemiskinan masih menjadi persoalan utama bagi masyarakat kita. Dan persoalan utamanya, berkisar sekitar pendidikan, kesehatan dan upah yang tidak cukup. Tak berubah, dulu dan sekarang.