Jawabanmu

2014-04-15T20:31:51+07:00
 Oerip Soemohardjo berperan dalam pembentukan TNI Tahun 1945-1948
KEBERADAAN tentara memang seperti pedang bermata dua. Di satu sisi mereka dibutuhkan untuk melindungi negara sekaligus menegakkan kedaulatan negara. Namun, di lain sisi, tentara dengan senjatanya bisa menjadi ancaman bagi kestabilan politik dan keamanan negara. Senjata bisa dijadikan alat yang paling efektif untuk mendominasi kelompok-kelompok tidak bersenjata. Untuk itulah sampai sejauh ini kehadiran tentara di panggung politik selalu dianggap lebih banyak menimbulkan stabilitas politik. Di sini tentara tidak selalu bisa diterima sebagai pencipta stabilitas politik, justru mereka dituduh sebagai biang di balik kekisruhan politik yang sedang terjadi.Berkaitan dengan hal ini, publik memandang selama kurun waktu perjalanannya, TNI lebih banyak menampakkan dirinya sebagai kekuatan politik ketimbang kekuatan militer. Fungsi pertahanan dan keamanan TNI lebih banyak diarahkan sesuai kepentingan penguasa. Akibatnya, tak jarang mereka menggunakan cara-cara militer untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sipil.Di era reformasi, gejala keberpihakan TNI kepada kepentingan penguasa ini ternyata belum juga hilang, sekalipun TNI secara tegas telah menyatakan dirinya sebagai tentara yang profesional. Setidaknya, gejala tersebut diakui lebih dari separuh (59 persen) responden. Menurut mereka, TNI memang tidak bisa melepaskan diri dari penguasa, karena mereka sendiri sebenarnya bagian dari kekuasaan.Sementara, kuatnya peran politik TNI ini diakui responden berakibat buruk kepada kinerjanya sebagai kekuatan militer. Faktor ini pula yang mendukung penilaian minim responden terhadap citra TNI. Dalam penilaian responden, tugas TNI untuk memelihara dan mengamankan kedaulatan serta integritas negara, wilayah, dan bangsa Indonesia ternyata masih sebatas kata-kata. Pada kenyataannya, TNI dinilai masih belum maksimal melaksanakan tugas-tugas tersebut. Menurut sebagian besar responden (53 persen), kinerja TNI dalam menjaga keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia belum memuaskan. Dalam pandangan mereka, pergolakan yang muncul di beberapa daerah sekarang mencerminkan kegagalan TNI untuk mengantisipasi keadaan. Bahkan, lebih dari separuh bagian (62 persen) responden mengaku tidak puas melihat cara-cara TNI melakukan pemulihan situasi keamanan di daerah-daerah konflik. Tengok saja perisitiwa pemboman, atau ledakan bom di Poso dan Ambon baru-baru ini. Peristiwa tersebut menyiratkan anggapan akan ketidakmampuan TNI dalam mengatasi konflik antarwarga.Ironisnya, di mata publik ketidakmampuan TNI tersebut dipandang karena ada beberapa oknum TNI yang juga terlibat dalam kerusuhan. Dari berbagai peristiwa pemboman, menurut responden, ada indikasi bahwa pelakunya adalah mereka yang sudah terlatih dan profesional, sehingga semua peristiwa tersebut bisa berjalan sesuai target yang direncanakan. Dari sinyalemen tersebut, separuh lebih (56 persen) responden setuju dengan anggapan bahwa oknum TNI banyak yang terlibat di dalam kasus pertikaian sosial.
klo yang nomor 2 nya ?????
baris ke duanya sampai terakhir
Komentar sudah dihapus