Kedudukan APEC sebagai forum kerjasama kawasan, sangat strategis mengingat potensi penduduk negara anggota APEC yang mencapai 41% dari populasi global, 49% dari volume perdagangan internasional dan 56% dari total Product Domestic Bruto (PDB) dunia. Kondisi tersebut tentu meningkatkan posisi tawar negara anggota APEC, termasuk Indonesia dalam mengembangkan kepentingan nasionalnya di kawasan maupun dunia internasional.

Jawabanmu

2014-04-16T11:48:40+07:00
Forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para kepala negara  APEC yang juga dihadiri Presiden AS Obama pada tahun ini memunyai makna penting untuk menaikkan posisi tawar Indonesia di mata dunia dunia. Acara diselenggarakan di Nusa Dua, Bali (1- 8 Okt. 2013) merupakan yang kedua kedua kali bagi Indonesia sebagai tuan rumah, setelah 1994 di Bogor. Selain kepala negara, banyak peserta dari kalangan bisnis terkemuka dan para menteri turut hadir meramaikan pertemuan internasional itu.  

Pertemuan biasanya mengambil pola didului pertemuan para menteri keuangan, jauh sebelum APEC, sementara pada acara APEC diawali dengan pertemuan pejabat senior (SOM). Hasilnya dibawa ke ministerial meeting. Dari sini hasilnya disahkan dalam pertemuan para kepala ekonomi (AELM) untuk dimuat dalam deklarasi APEC. Pertemuan juga dihadiri perwakilan organisasi internasional, seperti PBB, Bank Dunia, WTO, dan IMF.

Indonesia sudah saatnya bisa memanfaatkan momentum KTT APEC  (Asia Pacific Economic Cooperation) untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan mendorong kekuatan ekonomi baru seperti dari sumber laut. Fakta lapangan memperlihatkan  sekitar 72% permukaan bumi berupa laut yang menyediakan sekitar 97% dari keseluruhan ruang kehidupan bumi. Lebih dari itu, laut telah mendukung kehidupan manusia sejak munculnya makhluk hidup pertama dari laut. 
Sektor  kelautan tentu akan semakin strategis bagi Indonesia seiring dengan pergeseran pusat ekonomi dunia dari poros Atlantik ke Asia-Pasifik.  Apalagi saat ini, sekitar 70% perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia Pasifik. Sementara  75% dari produk dan komoditas yang diperdagangkan ditransportasikan melalui laut Indonesia dengan nilai sekitar IS$1.300 triliun setiap tahunnya. 

Ini membuat posisi Indonesia secara geoekonomi paling strategis diapit Samudra Pasifik dan Samudra Hindia serta Benua Asia dan Australia, yang seharusnya negeri ini menikmati keuntungan paling besar dari arus perdagangan global tersebut. 

Namun selama ini, justru Singapura, Hong Kong, Jepang, dan China yang memetik banyak keuntungan, sementara seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk, Indonesia maupun dunia serta semakin menipisnya sumber daya alam (SDA) dan jasa-jasa lingkungan di daratan, laut secara realitas akan menjadi tumpuan harapan manusia sebagai sumber pangan, obat-obatan, kosmetik, bahan baku industri, energi, sumber daya mineral, parwisata, transportasi, dan komunikasi.
Selain itu, Indonesia  sebagai suatu wilayah geografis, memiliki keunikan yang tidak dimiliki negara mana pun di dunia. Selain unik karena merupakan pertemuan tiga lempeng benua (penyebab utama gempa dan tsunami), Indonesia juga unik secara klimatologis sebab posisi Indonesia yang memanjang dari barat ke timur di sepanjang garis ekuator. Padahal, ekuator menjadi faktor yang menentukan dalam perubahan musim periode tahunan. 

Tak mengherankan jika posisi Nusantara yang diapit Samudra Pasifik dan Samudra Hindia juga menjadi regulator iklim global, terutama yang berkaitan dengan El-Nino (kemarau panjang) dan La-Nina (musim penghujan dengan curah hujan sangat tinggi). Maka, dalam forum KTT APEC, Indonesia seharusnya memegang kunci dalam penelitian dan pengelolaan dinamika iklim global dan lebih dari itu negara-negara lain semestinya turut berkontribusi mendanainya.

Secara ekonomi, laut menjadi sumber mata pencaharian bagi ratusan juta orang di dunia melalui aktivitas perikanan tangkap, perikanan budi daya, pertambangan, transportasi laut, pariwisata, dan kegiatan ekonomi lainnya. Laut juga sebagai entitas wilayah serta sumber kekuasaan dan kedaulatan. 
Untuk dapat memberdayakan potensi ekonomi di laut, saatnya diperlukan akselerasi dan terobosan dari seluruh komponen bangsa, khususnya negara-negara Asia Pasifik untuk mewujudkan kekuatan ekonomi baru. Maka langkah awal yang harus segera diimplementasikan adalah kebijakan berpihak  secara tepat dan benar bagi tumbuh-kembangnya sektor ekonomi kelautan di negeri ini.
2 5 2