Jawabanmu

2014-04-13T19:55:44+07:00

Ahli Perbintangan (Aesop)

Dahulu kala hiduplah seorang tua yang dipercaya bisa meramal masa depan dengan melihat susunan bintang-bintang di langit. Dia menyebut dirinya sebagai seorang ahli perbintangan (astrologer) dan menghabiskan waktunya setiap malam dengan memandangi langit. Suatu malam saat dia berjalan di sebuah jalan di pinggiran desa. Matanya menerawang memandangi bintang di atas langit. Dia mulai memperkirakan dan meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan dari susunan bintang yang dilihatnya, dan saat itu juga tiba-tiba dia jatuh terperosok ke dalam lubang yang berisikan lumpur dan air. Di lubang tersebut, sang Ahli Perbintangan tenggelam oleh lumpur sampai sebatas telinganya, dan dengan panik Dia berusaha untuk menggapai pinggiran lubang agar dapat memanjat keluar. Dia lalu berteriak-teriak minta tolong dalam keadaan panik dan dalam waktu yang singkat orang-orang desa berlarian untuk datang menolong dan menariknya keluar dari lubang. Salah seorang diantaranya lalu berkata: "Kamu selalu berpura-pura bisa membaca masa depan dengan melihat bintang-bintang, tapi kamu gagal untuk melihat apa yang ada di bawah kakimu! Mungkin kejadian hari ini akan menjadi pelajaran agar kamu lebih memperhatikan apa yang ada di depanmu, dan membiarkan masa depan berjalan dengan sendirinya." "Apa gunanya dapat membaca bintang-bintang," kata yang lainnya, "apabila kamu sendiri tidak bisa melihat apa yang terjadi di dunia?" Urus dan perhatikanlah hal-hal yang kecil, sehingga dengan sendirinya hal-hal yang besar juga akan berjalan dengan baik.        

terima kasih ya......eh itu judulnya apa?"ahli perbintangan ta"?
iya
2014-04-13T20:02:27+07:00

'' kupu kupu taman ''
Feby duduk melamun di bangku taman, dia memandang kupu-kupu taman yang terbang tinggi, kadang kala kupu-kupu itu hinggap di atas bunga yang bermekaran. Suara teguran seseorang mengagetkan Feby.
“Feby, kamu melamun?” Tanya seorang gadis, rambutnya diikat kuda. Dia memakai kacamata pink. Feby langsung terkejut, ia memandang gadis berkacamata itu.
“Nenek,” kata Feby sambil memandang gadis itu.
“Feby, aku bukan nenak! Aku Dinda,” ucap gadis itu. Ternyata lamunan Feby masih terbawa. “Kamu mikirin nenek lagi?,”.
Feby menghela nafas beberapa saat. “Maaf, ku kira Kamu nenek,” kata Feby tanpa memandang Dinda. “Sepertinya aku nggak bisa melupakan nenek”.
Dinda kemudian duduk di samping Feby, Dinda mencoba menghibur Feby. “Aku tahu, kamu nggak bisa mengikhlaskan kepergian nenek. Aku tahu, nenek sangat berharga untuk kita. Nenek adalah satu-satunya keluarga kita, tapi relakan kepergian beliau,” kata Dinda
“Dinda. Kamu nggak mengerti bagaimana rasa sayang aku sama nenek. Nenek sudah merawat kita dari kecil, aku sangat menyayanginya. Kita nggak punya siapa-siapa lagi selain nenek!,” kata Feby sambil meneteskan air mata.
“Feby. aku mengerti, kamu sangat sayang sama nenek dan ku akui kamu adalah cucu kesayangan nenek, tapi ini adalah kekuasaan Allah. Kita hanya bisa menerima. Hidup dan mati ada di tangan Allah.” kata Dinda
“Dinda Allah nggak adil! Kenapa Allah memberikan cobaan seperti ini pada kita, kenapa?,” tangis Feby semakin deras
“Feby, Allah itu maha adil, Allah tidak ingin membiarkan nenek menahan sakitnya. Nenek sudah sakit selama 1 bulan. Apa kamu tega melihat nenek kesakitan? Feby, relakan kepergian nenek, agar nenek tidak sedih, kalau kamu tidak bisa merelakan kepergian nenek, nenek akan sangat sedih. Disana nenek sudah tenang tanpa menahan sakit.” kata Dinda.
Feby menangis di pelukan kakaknya, Dinda. Feby terus menangis. Kupu kupu yang ada di taman lalu mengintari Dinda dan Feby. Seolah mereka ikut menghibur kesedihan Feby. Dinda memperhatikan kupu-kupu itu, kejadian itu pernah dialami oleh Feby, Dinda dan almarhumah neneknya.Dulu, Dinda, Feby dan neneknya piknik bersama di sebuah taman. Dengan berbekal makanan yang ada meraka menikmati keindahan taman. Feby sangat senang disana. Ada banyak kupu-kupu. Feby menari dan bernyanyi, Feby pun menangkapi kupu-kupu itu.“Feby, jangan kamu tangkap kupu-kupu itu. Kasihan, mereka ingin bebas! Mereka juga ciptaan Allah. Biarkan mereka terbang bebas selayaknya kita yang hidup bebas di dunia,” kata nenek
Feby lalu melepas kupu-kupu itu. Namun dia cemberut.
“Feby. Kamu jangan begitu, biarlah kupu-kupu itu berkumpul bersama keluarganya. Seperti kita,” ucap Dinda. Feby kembali tersenyum. Apalagi setelah banyak kupu kupu terbang mengintari Feby, Dinda dan nenek. Feby sangat senang. Nenek dan Dinda tersenyum lega.
Feby masih menangis di pelukan kakaknya. Sampai sampai Dinda ikut menangis. Kenangan itu adalah kenangan terindah bagi Febby, Dinda dan almarhumah nenek. Febby mengajak pulang adiknya karena taman mulai gelap, matahari mulai masuk ke peraduan.