Jawabanmu

2014-04-05T09:03:11+07:00
Ketika masih berusia 15 tahun, untuk pertama kalinya penulis meyaksikan sebuah kampaye Pemilihan Umum (Pemilu). Ketika itu, partai NU (Nahdlatul Ulama) mengelar kampanye di alun-alun utara kota Jogyakarta. Di atas panggung, sederetan juru kampanye mengajak para pemilih yang berjumlah puluhan ribu orang, di samping Kyai Asnawi dari Kudus, yang membawakan sebuah salawat Nabi Muhammad SAW dan diikuti para hadirin. Dengan hanya bermodalkan hal itu, partai NU menjadi pemenang ke-3 dalam pemilu, paling tidak secara nasional.Tema utama dari kampanye tersebut adalah sesuatu yang sangat simplistik: menangkanlah partai NU, jika ingin Islam menang.
Dari gambaran di atas, tampak jelas, bahwa kemenangan organisasi atau parpol (partai politik) Islam adalah kemenangan bagi agama tersebut. Ini dapat dibilang begitu, karena waktu itu NU berasas Islam. Jadi tidak ada komplikasi bagi pengakuan, memperjuangkan NU adalah memperjuangkan Islam pula. Keyakinan ini demikian membara, sehingga dalam tahun 1971 seorang juru kampanye NU (Kyai Fuad Hasyim dari Buntet Astanajapura di Cirebon) harus lari dari podium karena tekanan-tekanan berat secara fisik atas dirinya.
Tekanan fisik itu berupa air yang disemprotkan dari pipa sebuah truck penyemprot air merangkap pemadam kebakaran, kaca-kaca mobilnya juga dipecahkan oleh lemparan batu salah satu parpol perserta pemilu lain. Kyai tersebut menerima hal itu sebagai pengorbanan yang dilakukannya bagi Islam, melalui NU sebagai partai politik.