Jawabanmu

2014-04-01T07:32:36+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Pelajaran yang dapat diambil adalah, di setiap negara mempunyai peraturan masing-masing. Jadi, kalau kita berkunjung ke negara lain, patuhilah dan taatilah peraturan yang ada.
Apakah puisi tersebut dapat dimasukkan ke dalam anekdot?
Ya, karena puisi tersebut bersifat menyindir dan terdapat unsur lucunya.
A: Hei! Beritahu aku jika kau lihat?
B: Lihat apa?
A: Itu sampah atau apa?
B: Bisa jadi!
A: Di jalanan ada sampah. Di selokan ada sampah. Di laci ada sampah. Di bus, truk, dan angkot ada sampah.
B: Benar? Kamu pernah liat dimana saja?
A: Di laut, di gunung... Emang negeri kita negeri sampah apa emang tong sampah?
B : Aku tidak tahu. Tanyakanlah pada rumput yang berjoget.
A : Bagaimana dengan Istana Presiden?
B : Hah? Apa maksudmu?
A : Ada yang bilang di bawah tiang bendera, ada. Di balik gedung DPR pun, ada! Jangan-jangan... di kursi parlemen ada sampah?!
B : Aha... aku sepertinya mengerti apa yang kau maksud.
A : Bingung aku jadinya... Coba kamu lihat, berani tidak?
B : Berani! Kan, disana tidak ada monsternya...
A : Sampah sudah menjadi bunga Nusantara sepertinya... Apa jangan-jangan di mulut manusia ada sampah juga?! Coba kuperiksa mulutmu!
B : Apa?! Tidak! Aku tidak mau! Kan, bau...
A : Oh? Ya sudahlah...
B : Kamu jangan marah-marah terus, dong!
A : Heh! Aku ini sedang kesal, tau! Dasar manusia sombong! Membuang sampah sembarangan... Jangan biarkan negeri kita menjadi "tong sampah"!
B : Siap! MERDEKA!Pelajaran yang dapat diambil adalah, di setiap negara mempunyai peraturan masing-masing. Jadi, kalau kita berkunjung ke negara lain, patuhilah dan taatilah peraturan yang ada.
Apakah puisi tersebut dapat dimasukkan ke dalam anekdot?
Ya, karena puisi tersebut bersifat menyindir dan terdapat unsur lucunya.
A: Hei! Beritahu aku jika kau lihat?
B: Lihat apa?
A: Itu sampah atau apa?
B: Bisa jadi!
A: Di jalanan ada sampah. Di selokan ada sampah. Di laci ada sampah. Di bus, truk, dan angkot ada sampah.
B: Benar? Kamu pernah liat dimana saja?
A: Di laut, di gunung... Emang negeri kita negeri sampah apa emang tong sampah?
B : Aku tidak tahu. Tanyakanlah pada rumput yang berjoget.
A : Bagaimana dengan Istana Presiden?
B : Hah? Apa maksudmu?
A : Ada yang bilang di bawah tiang bendera, ada. Di balik gedung DPR pun, ada! Jangan-jangan... di kursi parlemen ada sampah?!
B : Aha... aku sepertinya mengerti apa yang kau maksud.
A : Bingung aku jadinya... Coba kamu lihat, berani tidak?
B : Berani! Kan, disana tidak ada monsternya...
A : Sampah sudah menjadi bunga Nusantara sepertinya... Apa jangan-jangan di mulut manusia ada sampah juga?! Coba kuperiksa mulutmu!
B : Apa?! Tidak! Aku tidak mau! Kan, bau...
A : Oh? Ya sudahlah...
B : Kamu jangan marah-marah terus, dong!
A : Heh! Aku ini sedang kesal, tau! Dasar manusia sombong! Membuang sampah sembarangan... Jangan biarkan negeri kita menjadi "tong sampah"!
B : Siap! MERDEKA!