Jawabanmu

2014-03-30T15:20:47+07:00

Ini adalah Jawaban Tersertifikasi

×
Jawaban tersertifikasi mengandung isi yang handal, dapat dipercaya, dan direkomendasikan secara seksama oleh tim yang ekspert di bidangnya. Brainly memiliki jutaan jawaban dengan kualitas tinggi, semuanya dimoderasi oleh komunitas yang dapat dipercaya, meski demikian jawaban tersertifikasi adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Petani Sawah : Sahabat, kami bersyukur dengan tanaman padi. Setelah kami menanam dan memelihara, tiga setengah bulan kemudian kami panen. Sebagian kecil dapat dipakai sebagai benih, sisanya sebagai pendapatan nafkah saya, mestinya setelah dikurangi ongkos bertani. Alam bersifat kasih, memberi kepada kita, manusialah yang meninggi-rendahkan harga untuk kepentingan pribadi dan sering merugikan saya. Petani Buah : Demikian pula bagi kami. Kami menanam pohon mangga dan setelah enam tahun sudah mulai berbuah setiap musim. Dari penjualan mangga, kami sisihkan untuk peremajaan pohon, sisanya sebagai pendapatan kami. Alam bersifat kasih, lebih banyak memberi daripada menerima, manusialah yang memainkan harga demi kepentingan pribadinya. Petani Sawah : Sapi perah di rumahku juga menyusui anaknya, tetapi susunya berlimpah dapat kujual untuk menambah pendapatan. Ayam kampungku juga bertelor, tetapi hanya sedikit yang dieraminya untuk menghasilkan keturunannya, sisanya kujual juga. Gusti Allah Maha Pengasih. Petani Buah : Leluhur kita mengajari kita agar kita bisa sabar dan narimo, menerima apa adanya. Apakah sahabat bisa menjelaskan bagaimana penjelasannya. Kita mengalami hal yang tidak adil, harga dipermainkan pedagang, kita sulit melawannya. Katanya Gusti Allah ora sare, tolong dijelaskan pemahamannya. Apakah kita harus diam saja? Petani Sawah : Panennya padi jelas tiga-empat bulan, panennya mangga sekitar enam-tujuh tahun. Akan tetapi, hasil tindakan baik atau buruk, kita tidak tahu kapan akan panennya. Seorang pemuda yang menghilang setelah menghamili seorang perawan, merasa sudah selesai, tetapi hukum alam tidak demikian. Siapa yang menabur akan menuai. Apabila perawan yang ditinggalkannya terlunta-lunta, anaknya yang lahir sengsara, bagaimanapun si pemuda akan tetap dikejar karma, seperti dikejar senjata cakra yang selalu membuntuti sampai dimanapun dia berada. Sebaliknya seorang anak yatim yang nasibnya akan menderita, karena dipelihara dan diberikan pendidikan, bahkan sampai anak keturunannya menjadi orang-orang bahagia. Kebaikan tersebut akan mengakibatkan si pembuat amal menerima panen dikemudian hari. Dengan pemahaman demikian, kita akan menerima ketidakadilan tanpa mengeluh. Petani Buah : Kami paham sekarang si pemain harga yang merugikan kita akan menerima akibat perbuatannya pada waktunya. Pertanyaan kami selanjutnya bagaimana tanggapan kita terhadap hidup ini. Apa yang harus kita lakukan? Katanya kita harus tetap berkarya, harus tetap mandiri tidak merepotkan orang lain. Petani Sawah : Leluhur kita mengajari bekerja tanpa pamrih. Lihatlah sang Matahari dia bersinar terus tidak punya pamrih apa-apa, padahal kehidupan kita tergantung padanya. Lihatlah air, mulai dari lahir, makan-minum, mandi, mengairi tanaman, mengglontor sampah di sungai, mengadakan ritual agama, bahkan sampai matipun kita membutuhkannya. Mereka melayani kita tanpa pamrih. Mereka melakukan Dharmanya sebagai matahari dan air. Marilah kita melakukan Dharma kita, apa yang diamanahkan pada kita, perkara hasil akan ada hukum alam yang mengaturnya. Petani Buah : Penjelasanmu luar biasa sahabat, siapa yang menjadi Gurumu? Petani Sawah : Gusti, Hyang Widi akan memberikan pemandu apabila kita sudah siap menerimanya. Bisa lewat buku, lewat Guru ataupun Pemahaman tentang Alam. Guruku menjelaskan tentang pemahaman Bodhidharma, seorang Pangeran dari India yang mengajar tentang Dharma di Cina. Dalam perjalanannya mampir ke Sumatera dan Jawa. Aku percaya kepadanya. Bacalah bukunya kau akan mengerti.
5 2 5